World's best boyfriend (ever).




....aku hanya merasa tidak bisa memberikan apa-apa untuk mengimbangi apa yang kau berikan. Terima kasih untuk semua kasih sayang, kesabaran, waktu, tawa, semangat, pelukan, hadiah dan segala hal yang tak bisa kusebutkan satu-persatu (saking banyaknya). Terima kasih. Kau yang terbaik dan akan selalu menjadi yang terbaik, buatku. Love you, mas musang. :D

PS : Bisakah sesekali kau mengalah ? Aku merasa tidak punya kesempatan untuk membahagiakanmu karena kau selalu memberikan lebih dari yang aku berikan. ): 

Category: 0 komentar

My all. My everything.

....tempurung otakku mungkin berkeletak tanpa suara
ya, hatiku pun
terserak tanpa siapa pun melihatnya
hatiku remuk, bukan patah

meraih mimpi yang bukan mimpiku
mengejar bis yang salah arah
mendaki gunung tanpa peta
seperti itukah, kiranya ?

aku tersesat, tak kusangkal
berulang kuyakinkan diri
bahwa ini memang alur semesta
sekedar naskah fana yang belum kubaca

...karena sebutan pahlawan hanya untuk mereka yang berjuang
...karena sebutan martir hanya untuk siapa pun yang berkorban
tiada gelar tanpa bakti
tiada nama besar tanpa hujan air mata dan cucuran keringat di dahi

aku akan mulai mengambil mata kuliah sihir semester depan
semua mimpimu, akan kau lihat dengan kedua mata sayumu
tiap tetes air matamu, akan menjadi aster bermekaran di halaman rumah kita
aku janji. aku janji. aku janji. 

perkataanmu adalah titah bagiku
ya, perkataanmu adalah kitab suci keduaku
ya, ucapanmu adalah kalam kompas hidupmu
kau - segalaku. 

karena aku......................putrimu.

PS : Love you, mum. 



Category: 0 komentar

Rindu dia, Yudhit-ku....

    Malam masih sama seperti beberapa minggu terakhir. Dingin membeku, menusuk sampai inti sumsum tulang. Membuat waktu terasa makin panjang untuk dilalui. Terasa makin lambat detik berjalan...


    Aku sendiri tidak mengerti apa yang salah. Makanan yang kumakan ? Minuman yang kuteguk ? Ataukah obat yang kutenggak ? Entahlah. Aku merasa ada yang hilang, di sini, di hatiku, saat terpisah darinya. Ya ya ya. Aku tak tahu apa yang orang-orang pikirkan saat perilaku ku menjadi begitu aneh. Setidaknya, sebagian dari mereka bertanya, kenapa. Aku jawab aku rindu padanya. Mereka bilang aku gila. Ya. Mereka bilang aku gila. Bah !! Bisanya mereka bilang begitu !! Memangnya mereka pikir mereka sia.... Atau mungkin aku memang sudah gila..... ????


    Mungkin aku (terlalu) terbiasa melihatnya. Hampir setiap hari. Dalam rentang waktu lebih dari 5 jam. Lalu tetiba aku tidak bisa memegang tangannya. Atau mencubit pipinya. Atau memeluknya. Atau; yang paling aku suka; membaui aromanya yang membuatku begitu nyaman di sisinya. Aku tidak terbiasa dengan ke-alpa-annya dari hari-hariku. Salah satu standar pengukur normal hariku adalah "dia", "keberadaannya". Ketika dia tak ada, aku merasa sangat tidak normal. Sangat-sangat tidak normal. Sangat amat tidak normal (Maaf untuk pengulangan tidak normal yang cukup banyak. Harap maklum, karena aku sepertinya memang sedang tidak normal).


    Merindukannya dalam waktu singkat memang memabukkan, indah, menyenangkan. Tapi jika dalam waktu panjang, uhm...sepertinya kurang nyaman. Aku jadi kehilangan mood, sejak pagi, sejak membuka mata. Aku merasa moodku berhamburan, aku menjadi luar biasa temperamen. Aku jadi mudah marah, pada siapa pun dengan kesalahan sekecil apapun. Ah, aku benci perasaan ini. Ingin kuhapus atau kuganti saja kode enkripsinya. Tapi bahkan menemukan tombol resetnya pun aku tak mampu. ah, dimana tombol resetnya ??


    Susah tidur juga menjadi salah satu gejala rindu yang tak tahu aturan ini. Dengan seenaknya rasa ini menyabotase jam tidurku. Membuatku terjaga sepanjang malam. Bahkan ketika aku bisa tidur pun, ia membuatku bermimpi yang menyeramkan, atau membuatku tidak bisa tidur nyenyak. Seperti kemarin malam, aku hanya ingat aku bermimpi melihat orang terjatuh dari lantai atas sebuah gedung. Ya, terus saja membuatku tersiksa. Dalam keadaan terjaga, aku tersiksa. Merindukannya, memikirkannya. Dalam keadaan tidur pun aku (masih) tersiksa. Rindu, sebenarnya apa maumu ?


    Lalu, entahlah. Aku hanya tak tahu apa ini atau mengapa begini. Aku hanya tahu aku rindu dia.. Aku ingin segera meringkuk di pelukannya, lagi...


NB : Ada baiknya jangan ada yang mendekat ketika aku sedang rindu padanya. Dikuatirkan bisa jatuh korban jiwa.




Category: 0 komentar

Ya, kamu...

..kala tarian hujan menyempurnakan senja kita,
aku tahu...
aku rasa, bahwa bukan bulir hujan yang menyempurnakan hariku
tapi kamu.
ya, kamu.


kita bukan pasangan tanpa cela,
karena aku bukan cinderella dan kau bukan pangerannya
kita hanyalah kita,
sepasang makhluk fana yang menjadi teramat bahagia
saat kita berdua mengaitkan jari, berjanji setia


aku menyelipkan namamu dalam tiap sujud sembahku yang tak sempurna
tidak, aku tidak minta Tuhan harus menjodohkan kita
aku hanya berujar pada-Nya, "apapun yang terjadi, berikan yang terbaik baginya,.."
"...jadikan ia selalu bahagia dan jangan biarkan siapa pun menyakitinya,..."
"...ukirkan senyum itu selalu, di wajahnya. karena senyum itulah, kurva terindah dalam dirinya"


jika kemudian kamu menjadi poros pergerakan duniaku, 
itu sudah sewajarnya.
aku merapat padamu laksana bulan mengelilingi bumi
tidak pernah bergeser, tak berniat beringsut sedikit pun,
...dari sisimu


ah ya, kau pastilah makhluk hidup kedua terindah di seluruh jagad raya
...karena jika Tuhan punya sesuatu yang lebih elok darimu,
mungkin Ia akan menyimpan-Nya sendiri...


lalu tentang caramu menatapku diam-diam dari spion motor,
dan aku tersipu malu dibuatnya...
tentang sebuah cincin yang melekat di jari manisku,
..dan jari manismu,
terima kasih....


satu lagi, sayang...
bayangkan aku menempelkan dahiku ke dahimu,
tepat seperti yang kulakukan malam itu,
kau tebak apa yang ku katakan padamu dalam hati, hanya dengan saling menempelkan dahi.
ya, aku bilang "Aku sayang kamu"....




Category: 0 komentar

..berilah judul, sesuka hatimu..


...jika saja aku bukan aku,
mungkin tidak sesulit ini.
jika saja kamu bukan kamu, 
mungkin tidak akan serumit ini untukmu.

Ya, mungkin aku memang didesain menjadi seorang "soloist"
..yang entah bagaimana begitu susah disamakan dengan yang lain,
..yang hidup dalam dunianya sendiri,
..yang sulit dijabarkan dengan pemecah sandi mana pun.

Ya, mungkin aku memang didesain menjadi seorang "soloist"
..karena orang lain akan sulit menyamakan pola,
..karena hanya akan menciptakan tanda tanya di otak manusia lainnya,
..karena makhluk lain akan lelah memecahkan sandiku, pada akhirnya.

Ya, mungkin aku memang "soloist".
Menari diguyur hujan gerimis di luar sana.
Menikmati malam dengan caraku sendiri yang orang lain tak bisa pahami.

Tersenyum kala sendiri, karena sendiri satu-satunya sahabatku yang paling sejati...

Category: 0 komentar

Plain white t's - 1234 (cover vidklip)


Plain white t's - 1 2 3 4 


1-2-1-2-3-4

Give me more loving than I've ever had
Make it all better when I'm feeling sad
Tell me I'm special even when I know I'm not
Make it feel good when it hurts so bad
Barely get mad
I'm so glad I found you
I love being around you
You make it easy

It's as easy as 1-2-1-2-3-4
There's only
ONE thing (one)
TWO do (two)
THREE words (three)
FOUR you... (four)
(I love you) I love you
There's only
ONE way (one)
TWO say (two)
Those THREE words (three)
And that's what I'll do... (four)
(I love you) I love you

Give me more loving from the very start
Piece me back together when I fall apart
Tell me things you never even tell your closest friends
Make it feel good when it hurts so bad
The best that I've had
And I'm so glad I found you
I love being around you
You make it easy

It's as easy as 1-2-1-2-3-4
There's only
ONE thing (one)
TWO do (two)
THREE words (three)
FOUR you... (four)
(I love you) I love you
There's only
ONE way (one)
TWO say (two)
Those THREE words (three)
And that's what I'll do... (four)
(I love you) I love you
(I love you) I love you

You make it easy
It's as easy as 1-2-1-2-3-4
There's only
ONE thing
TWO do
THREE words
FOUR you...
(I love you) I love you
There's only
ONE way
TWO say
Those THREE words
And that's what I'll do...
(I love you) I love you
(I love you) I love you
1-2-3-4
I love you
(I love you) I love you

Category: 0 komentar

Rindu kamu. Rindu kamu. Rindu-serindu-serindunya ~~~


Dear sayang,

Sudah hm....sekitar jam 01.20. Tadi memang sudah sangat mengantuk, tapi kemudian mata bersinar-sinar dengan terangnya. Langsung 100 watt. Ah, kau sudah tidur. Iya, instant messages yang ku kirim hanya menunjukkan tanda D, belum juga berubah menjadi R. Tak apa. 

Entah kenapa, aku sangat merindukanmu. Hey, jangan tertawa, kumohon. Aku tahu kita baru bertemu, baru juga berpisah sekitar beberapa jam yang lalu. Tapi sayang, sumpah demi kentang goreng yang kita makan malam ini, aku sudah sangat merindukanmu. Sepi, satu-satunya yang terasa ketika punggungmu menghilang dari pagar depan. Aku betul-betul rindu kamu. 

Aku melihat beberapa foto gunung api purba, dan entah kenapa aku jadi ingat rencana kita kesana. Setelah "Let's get lost" episode Bukit Bintang, Jalan Paris Tengah Malam-Menjelang Dini Hari, Nonton Wayang di Alun-alun dan Pantai Sadranan (yang berujung ke pantai Krakal), aku haus membuat episode lain. Tentang Solo dan Semarang, tentang Jatim Park dan BNS, tentang Papuma dan Bromo yang belum juga bisa kita kunjungi, aku haus merangkai hari gila lagi denganmu. Iya, kau tahu aku. Kau tahu betapa susahnya mengajakku sekedar pergi. Kau sudah buktikan bukan, butuh setahun sampai kita bisa pergi nonton. Tahu kau se-seru dan se-gila ini, aku pasti mau kau ajak pergi sejak tahun lalu. Eh, memangnya tahun lalu kau sudah mengajakku pergi ? Sudahlah, lupakan. Hahahha.

Pun aku rindu, dengan jalan-jalan kita ke alun-alun. Sekedar makan cilok, makan tempura dan sebangsanya. Entah kenapa, itu sederhana. Tapi kau; aku curiga mungkin kau keturunan penyihir; kau selalu bisa membuat semua jalan-jalan yang sederhana jadi amat sangat menyenangkan. Membuatku tersenyum lebar terus; sepanjang jalan dan saat sedang memutari alun-alun sambil gandengan; sampai gigiku kering, terlalu banyak tertawa. Makan mie dok-dok menjelang subuh juga terasa makan pasta di koki Joni, nikmatnya jangan ditanya. Memang ini bukan tentang apa yang kita makan atau kemana kita pergi. Ini tentang kamu yang membuatku selalu nyaman. Membuatku bahagia sampai-sampai bibirku tanpa sadar sudah mengulum senyum, tanpa sadar, tanpa kurasa.

Aku mencandu pelukanmu. Aku ketagihan menyelipkan jari-jariku di antara jemarimu. Tentang joke-mu yang klasik; tentang "bagaimana jika kita pulang ke rumah yang sama ?", aku benar-benar menyukainya. Ya, aku ingin (segera) pulang ke rumah yang sama denganmu. Jika kita pulang ke rumah yang sama, mungkin akan ku gudangkan gulingku, karena aku lebih suka memelukmu sepanjang malam. Jika kita pulang ke rumah yang sama, pulsa IM3-ku akan sangat jarang kuisi, karena yang biasa menemaniku tidur lewat telepon sudah ada di sampingku. Jika kita pulang ke rumah yang sama, bibirku tidak perlu lagi komat-kamit mengucapkan doa tidur, karena kau yang akan memimpin pembacaan doanya dan aku hanya mengikuti dalam hati. Dan jika saja kita pulang ke rumah yang sama, aku pasti jadi wanita yang paling bahagia. Bagaimana tidak ? Manusia mana lagi yang begitu beruntungnya bisa bersuamikan seorang malaikat ? (:

Sayang, kau pasti sudah terlelap di sana. Aku akan segera berbaring juga. Aku benci terlalu lama terjaga. Jika aku terjaga, rindu akan dengan leluasa menyiksaku. Membuatku merana karena ingin segera bertemu denganmu (lagi). 

Selamat malam, sayang. Tidak perlu bilang "Aku sayang kamu", kan ? Tanpa bilang pun kau sudah tahu, yang aku rasakan lebih dari sekedar itu. 
Category: 0 komentar

Hey, malaikat. (:

....aku hanya tahu kau datang tanpa ku minta. Tanpa ku tunggu. Tanpa ku duga. Kau datang begitu saja, menebar tawa dan hembus angin surga. Ah, angin surga ? Berlebihankah ? Kurasa tidak. Karena kau malaikat, malaikatku yang turun dari surga.

Sebelum mengenalmu, aku menghabiskan hari-hariku bersamanya.

Iya, cinta membuat mata kadang kabur saking mabuknya. Seperti aku. Bukan, tidak kukatakan bahwa aku salah mencintai. Aku hanya merasa aku membuang waktuku untuk bersama orang yang salah. Benar-benar buang waktu, karena mencintai orang yang bahkan tidak mengerti makna cinta. Tapi bukankah tanpa ini aku tidak akan belajar ?

Samar tergambar dalam benak tentang hari-hari mendung yang ku lewati untuk mencintai dan membahagiakannya. Yang penuh dengan segala pernak pernik usaha untuk membuatnya (sekedar) tertawa. Masa dimana satu hari aku bahagia, dan beberapa hari selanjutnya hanya diisi dengan rasa lelah menghadapi manusia itu. Ya, hari bahagianya tidak sebanding dengan hari kurang bahagianya. 

Lalu semua memburuk dan membuatku lebih sering bergulingan tersedu. Tumpukan tisu, menyusut air mata, adalah hal biasa yang mampir tiap hari. Namun entah karena apa (atau entah mengapa?) aku masih bertahan. Dungu, kataku pada diri sendiri. Mereka bilang bahwa ini tidak pantas. Mereka bilang sudah waktunya mengemasi segala atribut cintaku untuk makhluk itu. Herannya aku sangat bebal. Aku bertahan dalam kubangan rasa sakit yang tidak berkesudahan. Ah, betapa bodohnya.

Untunglah manusia punya rasa lelah. Ketika semua tempelan di dinding itu telah terlepas dari tempatnya, saat itu pulalah rasaku ikut lenyap. Ku remas semua potongan kenangan yang (mungkin) sudah terlalu lama menempel itu. Ku lempar semua sampah kenangan itu ke keranjang sampah, ku tinggalkan tanpa menoleh. Sudah terlalu lama aku menjadi pengagum gilanya. Aku mengajukan pensiun dini secara mendadak. Ya, aku hanya ingin pensiun dini. Mencari pekerjaan baru. Membahagiakan orang lain, karena umurku terlalu berharga disiakan, untuk sekedar bersamanya. 

Entah mungkin Tuhan merasa kasihan padaku, atau memang waktunya kita dipertemukan, kau datang. Kau dengan segala hal yang sederhana. Kau yang dengan penuh minat mendengarkan aku mengoceh berjam-jam. Kau yang dengan sabar tersenyum dan bilang"Biarkan saja, nanti ada balasannya" untuk semua kekesalanku. Ya, aku mulai terbiasa dengan keberadaanmu. Aku hanya ingin kau tetap disini.

Untuk pijakan kaki yang kau bukakan dengan tanganmu, untuk segala perdebatan dimana-kita-akan-makan malam-untuk-pertama-kalinya, untuk kau yang tertawa begitu serunya mendengar semua ceritaku tentang nomor tukang makanan yang tersimpan di HP-ku, untuk jus alpukat yang (kebetulan) sama-sama kita suka, untuk pesanan air es yang tidak pernah alpa, untuk tengah malam makan mie dok-dok yang enaknya luar biasa, untuk jalanan Jogja yang sudah kita putari entah berapa kali, untuk nasi goreng bu Ita yang porsinya bukan ukuran manusia biasa, untuk bukit bintang yang kita datangi tanpa rencana; hingga aku hanya memakai sendal jepit & kedinginan disana, untuk tatapan tertegun teman-temanmu melihat kita yang lengketnya bersaing dengan amplop & perangko, untuk kau yang dengan gigih mengajakku ke pantai, untuk kau yang terdiam melihatku bete gara-gara gagal makan nasi goreng, untuk foto alay dengan kaca mata 3D, untuk macet-macetan malam minggu, untuk jajan tempura & cilok di alun-alun sambil gandengan, untuk hujan-hujanan bareng, untuk diet yang jadi hancur karena kau selalu mengajak makan, untuk lotek yang segambreng porsinya, untuk "membaca pikiran" yang selalu benar, untuk makan pasta tiga porsi, untuk belanja bersama, untuk segala jokes tentang antimo & muaknya aku melihatmu, untuk duduk-duduk di depan benteng sambil makan mendem duren, untuk balapan makan kentang goreng, untuk caramu mencubitku ketika aku bilang suka ngebut, untuk cincin yang entah bagaimana bisa begitu pas di tanganku, untuk kue ulang tahun yang enak, untuk menemaniku tidur di telpon, untuk doa tidur yang kau bacakan untukku, terima kasih. Dengan apa aku membalasnya ? (':

NB : Memang aku tak pernah sekalipun melihat sayapmu, namun aku yakin kau malaikat;yang menyamar, karena manusia biasa tidak akan mampu membuat hari-hariku seindah ini. 
Category: 0 komentar

Begitu saja.

....dan malam menjadi saksi tunggal kita
kala tatap matamu mengacaukan segala logika yang ku punya
ketika pelukanmu perlahan menjadi sesuatu yang ku damba;
setiap harinya.
ya, kau adalah candu;
kau membuatku selalu merindu...

mencintaimu, kulakukan tanpa sengaja
terjadi begitu saja, begitu saja.
aku jatuh berlutut pasrah di hadapanmu.
aku menyerahkan hatiku serta merta;
tanpa syarat, tanpa embel-embel akan kuminta kembali;
satu saat nanti.

...entah mengapa, ketika kita bersama,
aku selalu berharap pagi terlambat datang;
matahari lupa terjaga, bulan terlalu asyik bertahta;
atau malam terlambat berlalu;
hingga aku punya perpanjangan waktu untuk meringkuk di pelukanmu..
Category: 0 komentar

Jelmaan....

Hari-hari bersamanya teramat indah. Seperti berjalan di atas awan, melayang menembus langit bertabur bintang, duduk di atas bulan sabit. Seperti mimpi karena teramat indahnya. Sama halnya dengan semua mimpi, pasti ada saat untuk terjaga; dan aku benci setiap momennya. Aku ingin tetap bermimpi, tanpa pernah terjaga...

Ketika bersamamu, jam berjalan secepat menit, menit berjalan secepat detik. Sejam, dua jam, berlalu begitu saja tanpa disadari. Nanti jika kau mulai memakai jaketmu, mengemasi semua barang, memelukku, mencium pipiku dan bilang "Aku pulang dulu ya.", waktu akan kembali berjalan normal. Aku benci harus melihat punggungmu menjauh, mencium tanganmu dan bilang agar kau hati-hati di jalan. Ya, aku selalu benci saat-saat itu. Karena ketika aku harus menutup gerbang setelah kau pergi, itulah saat dimana waktu memaksaku untuk terbangun dari mimpi. Ketika kau (entah) diamana dan aku di kamarku, sendiri, aku mulai berpikir tentang apa yang sedang kau lakukan, apa yang sedang kau pikirkan. Adakah namaku berpusar di otakmu; seperti halnya garis wajahmu terus tergambar di kepalaku ? Aku selalu merindukanmu. Aku mulai merindukanmu tepat ketika aku mengunci gerbang dan kembali ke kamarku. Melihat bekas rokokmu di asbak, botol cola yang lupa kau buang. Aku hanya berharap bisa kembali ke detik dimana kau masih disini.

Saat kau pergi, ya, aku merasa sendiri. SMS-mu pun hanya mampir ke handphone-ku sesekali. Tiap beberapa menit aku mengecek hp, sekedar memastikan tidak ada SMS-mu yang lupa kubalas. Tapi seringkali, aku hanya mendapati hp-ku tanpa pesan darimu. Aku mulai mengatakan pada diriku bahwa kau sibuk. Tapi hatiku mulai berteriak, “Sesibuk apapun dia, kalau dia sayang kamu, dia pasti sempatkan waktu untuk menemanimu !!”. Ah, aku jadi bingung sendiri. “Apakah kau sayang padaku?” adalah pertanyaan selanjutnya yang sering datang ketika kau menghilang berjam-jam lamanya. Seringkali aku merasa ini sangat membosankan, melelahkan. Tapi nanti ketika kau datang, dan mengucapkan sepotong “Hey..” sambil tersenyum manis, aku lupa hari-hari lelahku menunggumu. Ya, aku benar-benar lupa. Aku benci selalu lupa akan waktu yang kuhabiskan untuk menunggumu. Ah, aku memang benar-benar mencintaimu, bukan ?

Aku suka caramu menatapku, aku suka caramu menggenggam tanganku, aku suka caramu mengelus rambutku, aku suka caramu merajuk ketika kau merasa bersalah. Mungkin aku sudah gila. Tergila-gila padamu, tentu saja. Tapi biarlah. Jika memang aku gila, aku tidak ingin sembuh. Tergila-gila padamu jauh lebih menyenangkan daripada menjadi orang waras seperti banyak orang di luar sana.

Apakah aku berlebihan ? Aku hanya merasa tidak ada cara yang tepat untuk membuatmu tahu bahwa aku menyayangimu, aku mencintaimu, kau segalaku. Aku berusaha sembunyikan ledakan di dadaku tiap aku melihatmu. Karena jika tidak kutahan, mungkin aku langsung akan menghambur ke pelukanmu tiap kita bertemu. Karena jika tidak kutahan, mungkin aku bisa memelukmu berjam-jam tanpa kulepas. Karena jika tidak kutahan, mungkin aku akan minta siapapun mengunci kamarku dari luar supaya aku tidak harus melihat momen yang kubenci itu, momen ketika aku menyaksikan punggunggmu menjauh dari gerbang. Ah cinta, mengapa kau begitu menjeratku ?

Aku rasa bilang "sayang" seribu kali pun tidak cukup menggambarkan apa yang aku rasakan padamu sekarang. Sejuta kata "cinta" juga tidak sedikit pun bisa memberikan ilustrasi tentang apa yang ada di hatiku. Mungkin aku harus mulai memikirkan satu kata baru yang artinya lebih dari sekedar "sayang”, yang maknanya berlipat-lipat dari kata "cinta", untuk membuatmu tahu bahwa yang aku rasakan jauh; sangat jauh melebihi kata "sayang" atau "cinta".

....Salahkah jika aku menginginkanmu hanya untukku saja ? Dosakah jika aku hanya ingin kau di sampingku selalu ? Mulukkah jika aku berharap bisa membuka mata dengan melihat senyummu, dan menutup mata dengan melihat senyummu (lagi) ? Aku memang sedang benar-benar mabuk. Ya, mabuk cinta padamu.

Category: 0 komentar